Nyaris

Jadi ceritanya tadi sore main sama Umar di kamar. Sambil kasih Umar camilan pear. Trus setelah ngemil pear, mau bawa Umar main kedepan lihat kakak-kakaknya main bola didepan.

Baru berdiri, Umar bergerak mengayunkan badannya kebelakang. Aku sedang ga konsentrasi, jatuh lah Umar-nya. Untung masih cukup bgaus refleks-nya dan masih bisa “ngelempar” Umar ke kasur yang posisinya sangat dekat.

Kalo nggak, sudah jatuh ke lantai, si Umar itu. Langsung gemeteran ga karu-karuan sampe ga sangguo gendong dia.

Alhamdulillah Allah masih melindungi Umar dan ibu.

Advertisements

Sabar

SABAR…

Kalo diinget-inget, itu adalah kata yang paling sering disebutin hampir 7 bulan belakangan ini.

Semenjak Umar lahir, tepatnya.

Setiap dia menangis, pasti aku sebagai ibunya dan Maeza, ayahnya, selalu membujuknya dengan kata, “Sabar nak… Sebentar yaah… Yang sabaaar…”

Demikian juga ketika dia teriak-teriak, berusaha mengkomunikasikan keinginannya, kami pun selalu berkata kepada Umar, “Sabar yah nak… Umar kan anak sabar yaaah?”

Nggak jarang, setelah kami bilang begitu, Umar langsung terdiam dari otangisan dan teriakannya. Entah karena dia mengerti apa yang kami katakan, atau memang dia merasa kami sudah merespon komunikasinya.

Dalam ucapan sabar itu, terselip doa bahwa nantinya Umar akan tumbuh menjadi anak yang sabar. Aamiin…

 

Masalahnya sekarang adalah,setelah kami sering suruh Umar untuk sabar, apakah kami, orang tuanya, juga cukup sabar?

Apakah kita sudah kasih contoh, apa sih sabar itu? Gimana sih sabar itu?

Akhirnya, kita dipaksa untuk belajar lagi dari awal. Belajar untuk sabar, sebelum kita menyuruh Umar untuk bersabar. Agar kelak Umar tidak perlu disuruh tapi sudah mencontoh apa yang kami lakukan.

Semoga…